MAKNA LEBARAN
Idul Fitri atau yang sering kita sebut dengan Lebaran ini sudah tidak asing lagi ditelinga umat Islam. Idul Fitri adakah hari raya kemenangan umat Islam. Kemenangan disini adalah bentuk dari kemenangan dalam menggapai kesucian atau perwujudan dari kembali ke fitrah (suci). (Sumber: Quraish Shihab untuk suarakaryaonline.com).
Bagi sebagian orang di Indonesia, khususnya umat Islan, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran begitu sangat identik dengan mudik, halal bihalal, kesuka citaan, hidangan kue lebaran, baju bagus dan lain sebagainya.
Setiap orang mempunya cara tersendiri untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri disetiap tahunnya. Bagaimana dengan perspektif setiap orang dan cara mereka menyambut hari yang suci ini.
Bagi keluarga yang berasal dari dari ekonomi menengah keatas tentu menyambut hari ini dengan begitu meriah. Apapun akan dibeli agar lebaran menjadi lebih meriah. Memasak masakan yang sangat lezat, menggunakan pakaian yang sangat bagus dan lain sebagainya.
Namun, bagi keluarga yang berasal dari ekonomi menengah kebawah juga mempunya pendapat tersendiri. Mereka bahagia dengan datangnya hari yang indah inu. Namun, dihati kecil mereka ada tersirat rasa sedih. Why??? Karena dengan ekonimi yabg pas-pasan tentu membuat mereka harus pandai untuk membagi uang sesuai dengan keperluan mereka dan sebaik-baiknya.
Pakaian lebaran hampir menjadi kewajiban bagi kita yang menyambut datangnya hari ini. Namun, tidak dengan orang yang bersal dari kalangan ekonomi bawah inu. Pakaian baru tidak terbeli, kue lezat tidak terbuat, makan ala kadarnya. Dan berkumpul dengan keluarga adalah moment yang sangat ditunggu dan menjadi kebahagiabln tersendiri.
Selain itu, banyak umat muslim yang salah mengartikan hari lebaran. Lebaran tidak perlu harus semua serba baru, tidak harus dengan barang yang bagus. Sehingga tabungan 1 tahun dihabiskan untuk kebutuhan 1 hari. Tidak perlu harus mengadakan yang tidak ada sehinggan menyambut 1 hari ini harus berani berhutang selama 1 tahun lamanya (alias kredit) untuk membuat hari ini menjadi meriah.
Perilakuu yang salah ini sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di Indonesia. Seharusnya kita harus berpikir berulang kali, jika kita berani berpoyah-poyah dan bahagia di hari itu dengan perilaku kita yang salah, apakah kita pernah memikirkan saudara kita juga sudah bahagia dengan hari itu??
Wahai saudaraku, tak usah mengada adakan sesuatu yang tidak ada sehingga akan menjadi suatu beban bagi kita. Cukup dengan rasa syukur dan berbagi sesama akan menjadikan hari itu menjadi hari yang jauh lebih baik lagi.
Writer : Eli Sriningsih


Komentar
Posting Komentar